Tuesday, October 28, 2014

Musim Gugur dan Kisah Menyeramkan

Danau Guntersville
Sesungguhnya tidak terpikirkan oleh saya untuk menorehkan kisah ini dalam blog saya. bukan karena penggunaan Bahasa Indonesia, yang berbeda dari biasanya ketika saya menulis untuk blog ini. Bagi pembaca setia saya, teman-teman pasti tahu bahasa pilihan saya untuk blog ini adalah Bahasa Inggris. Tapi ketika saya hendak menuliskan kisah ini, saya pilih penggunaan Bahasa Indonesia karena kekuatan bahasa ini sy anggap dapat merepresentasikan apa yang ingin sy ceritakan.

Minggu malam sy dan pasangan berkendara sekitar pukul 12 malam dari Gulf Shore menuju Guntersville. Perjalanan dimulai dari jam 3 siang dan 12 malam kita sudah hampir sampai ke Guntersville. Rumah di Guntersville adalah rumah yg kemungkinan besar akan kami tinggali selepas kami menikah nanti.

Malam itu, udara musim gugur lebih terasa dari hari-hari biasanya. Ketika jendela mobil sy buka, dinginnya udara malam menusuk kulit sy. Seketika sy tutup lagi jendela mobil dan tak lama kemudian perjalanan kami dihiasi kabut tebal. Hal ini mengingatkan sy akan film "The Mist" yg merupakan karya penulis Horror handal, yakni Stephen King.

Jalanan kosong selain mobil kita. Memang biasanya malam musim gugur jauh lebih sepi dari musim panas dan semi dikarenakan udara semakin mendingin. Kadang kami berpapasan dengan satu atau dua mobil lainnya, tapi tidak banyak.

Perasaan sy sudah tidak enak. Tapi sy tidak utarakan pada pasangan, karena pasangan sy bukan orang asli Indonesia. Dia tidak percaya tahayul maupun kisah mistis. Bulu tengkuk sy berdiri setiap kabut semakin menebal. Sy pun khawatir karena jalanan semakin sulit dilihat.

Jalanan menuju rumah yg akan kami tempati harus melewati banyak pepohonan dan hutan. Rumah tersebut memang dibangung di sekitar Danau Guntersville. Lingkungannya masih asri dan dikelilingi hutan, bahkan rusa pun masih berkeliaran. 
Jalanan kecil menuju Rumah (diambil esok hari-nya)
Kami pun sampai tidak lama kemudian. Rumah yg kami tinggali berukuran sangat mungil dengan dua kamar dan satu kamar mandi. Ruang duduk dan dapur menyatu. Semua dekorasi dalam rumah terlihat sangat menawan dan membuat sy nyaman. Sy merasa lega seketika sy sampai di rumah ini. Tidak ada aura yang tidak mengenakan dalam rumah ini, yg membuat sy tidak nyaman adalah perjalanan menuju rumah ini.

Rumah kecil yang kami tempati di Guntersville
Pemandangan Musim Gugur dalam perjalanan kami.
Esok harinya sekitar pukul 5 sore menjelang maghrib, selepas memasak dan makan malam yg dipercepat, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitaran hutan-hutan kecil dan pondok-pondok terpencil di sekitar danau. Sy puas rumah kecil kami terletak di sekeliling banyak rumah lainnya. Tetapi pondok-pondok yg sy lewati nampak seperti pondok sunyi dan terpencil. Walaupun belakang rumah kami dihiasi pohon-pohon dari hutan kecil.

Kami melewati perkemahan atau biasa disebut Girl Scout's Camp Site. Saat itu Camp sangat kosong dan sepi. Mungkin musim gugur yg dingin bukan musim yg tepat untuk berkemah. Saya melihat ada beberapa ayunan kecil dan perosotan yang nampak sudah lama tak digunakan. Angin sepoy mengayunkan satu atau dua ayunan tersebut. Sy segera merapatkan diri ke pasangan sy. Angin dingin seakan meniup tengkuk sy. Sy pun menyegerakan pasangan untuk berjalan lebih cepat agar kami tidak terlalu lama di lokasi tersebut. Perasaan sy dihiasi banyak bayangan aneh dan mungkin ini hanya paranoia sy semata. Karena sudah terbukti teman-teman sy yg katanya dapat melihat dan merasa, bahwa sy ini cukup tumpul. Sy sih cukup berbahagia dianggap tumpul dalam hal Indera keenam. Tidak terima kasih, sy tak mau melihat atau merasakan hal-hal tersebut.
Rumah burung di Camp Site, bahkan burung pun tak ada.
Tempat bermain yang telah ditinggalkan. Lihat ayunannya tengah berayun..mungkin angin, pemandangan danau dapat dilihat sedikit dari arah pepohonan.
Suara anjing menyalak kencang ketika kami melewati rumah kecil di dekat danau. Sy ketakutan dan pasangan mencoba menutupi badan sy dari anjing yang hendak mendekati kami. Kemudian pemilik si anjing keluar dari pondok dan memanggil si anjing. Kami meneriakan ucapan terima kasih, si orang tua tersebut hanya melihat kami dan melambaikan tangan menyuruh kami meninggalkan propertinya. Dia terlihat seperti pria tua kesepian tapi galak dan tidak ramah.
Pondok kecil milik Pria tua dan anjing galaknya

Kami pun menyegerakan langkah kami menuju hutan-hutan kecil agar memotong jalan kembali ke rumah.



Semakin dekat menuju rumah kami, sy meminta pasangan untuk mengambil beberapa photo sy untuk menunjukan hutan-hutan kecil di atas bukit yang menuju rumah kami.
Sy agak ketakutan ketika mendengar suara-suara, mungkin hanya pine jatuh dr pohon atau rusa dan kelinci bergerak.


Rasanya, mungkin photo ini cukup menggambarkan ketakutan-ketakutan yg kerap sy rasakan.


Pohon sudah mulai berganti warna


Pasangan sy menyemangati untuk berjalan lebih cepat bila kami ingin sampai rumah sebelum malam menyeruak.
Perjalanan kami yang hanya sekitar satu jam itu, memberi sy banyak cerita dan inspirasi film Horror. Sy banyak teringat lokasi-lokasi pembuatan film Horror seperti pada film The Conjuring, Amtyville Horror, dan lain-lain. Sy pikir, sy ingin berbagi ketakutan sy dengan pembaca. Semoga foto-foto yg sy upload ini dapat memperkaya imaginasi teman-teman. Hati-hati tidur nanti malam, jangan sampai memimpikan mahluk yg hidup di dalam hutan sana.

Selamat menikmati.