Thursday, March 27, 2014

Milik Siapa Kalau Bukan Milik Kita? Dijaga Siapa Kalau Bukan Oleh Kita?

Milik Siapa Kalau Bukan Milik Kita? Dijaga Siapa Kalau Bukan Oleh Kita?

Judul diatas bukan sedang membicarakan laki-laki atau perempuan ya. Yang saya maksudkan diatas adalah bumi kita, alam kita, lingkungan kita, habitat kita. Kenapa judul blog ini demikian? Hal ini berangkat dari pengalaman saya selama bekerja 2 tahun pada lembaga kerjasama dari 2 Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia dan Korea yang didirikan sejak Desember 2011. Sy sendiri bergabung di bulan Juli 2012. Bisa dibilang karyawan perintis, karena saat itu lembaga tersebut masih relatif baru.  Lembaga tersebut bertujuan mengembalikan dan merestorasi 13 sungai di Indonesia dan diawali dengan Sungai Ciliwung.

Awal saya bekerja di sana, pada saat interview saya ditanya oleh atasan saya. Beliau adalah orang korea yang telah berganti kewarganegaraan saking cintanya pada bumi Indonesia. Dia tidak menanyakan IPK maupun pengalaman kerja saya sebelumnya. Yang ditanyakannya adalah "Apa yang sudah kamu perbuat untuk bumimu? ujarnya dalam bahasa Indonesia yang berlogat Korea. Saya termenung dan memikirkan jawaban saya. Saya ingin terdengar pintar, tapi saya malu karena memang saya merasa belum melakukan apa-apa. Akhirnya saya memutuskan untuk jujur. Beliau bilang tak masalah asal ada niat. Kamu kalau ke sini untuk selamatkan bumimu, saya mau terima. Tapi kalau alasannya uang, banyak perusahaan lain yang bisa kasih kamu uang. Saya sanggupi ucapan beliau. Saya yakinkan beliau bahwa saya ingin membantu. Beliau menceritakan pengalamannya mengunjungi perkampungan di tepian sungai Ciliwung. Awalnya suaranya kencang tapi kemudian dengan suara lirih beliau berkata bahwa sudah terlalu banyak bumi ini disakiti. Saya cinta bumi ini walau saya tak lahir di sini. Bumi ini sudah banyak memberi saya kisah indah dan pengalaman yang menyenangkan. Saya ingin jaga bumi ini, katanya. Saya sedih melihat betapa anak-anak tepian sungai Ciliwung menderita gatal-gatal dan alregi fatal karena kotornya air sungai. Saya sedih melihat hamparan sampah yang menutupi tepian dan permukaan sungai. Saya tertegun malu mendengarnya. Saya yang orang Indonesia saja tidak memperhatikan hal tersebut. Saya naik busway melewati daerah tepian sungai Ciliwung dan mencium betapa apeknya bau sungai tapi saya kerap mengacuhkan hal tersebut.

2 tahun saya bekerja di situ. Mengusahakan agar sungai Ciliwung dapat dikembalikan ke situasi semula. Bekerja di situ mengharuskan saya bersentuhan langsung dengan warga tepian sungai dan bahkan melakukan tinjauan untuk memilih lokasi proyek pembersihan secara langsung. Banyak hal yang mengenaskan yang saya lihat sepanjang perjalan saya di sungai Ciliwung; dari mulai anak-anak yang mandi dan berkeliaran di sungai, orang mencuci di sungai, dan ada orang yang terang-terangan buang air besar ke sungai tanpa penutup. Iya tanpa penutup, jadi mau tak mau saya menutup mata. Masa iya saya terus-terusan menatap pantatnya.

 Lihat lah betapa banyaknya sampah bertebaran di pinggiran-pinggiran sungai. Sampah rumah tangga yang menjadi senjata pembunuh sungai kita.

 Saya kaget melihat ada orang yang tinggal di bawah jembatan.



Berandalan-berandalan kecil yang melambaikan tangannya menyambut kami dengan senyuman

Rumah yang dibuat tinggi untuk menghindari banjir.
Satu rumah saja sampahnya sudah menumpuk begitu. 
 Bocah-bocah ini dengan riangnya berenang dengan mengikuti perahu karet kami. Tak tahukah mereka betapa berbahayanya perairan kotor bagi pertumbuhan mereka dan kesehatan kulit mereka.

Si bocah yang membantu ibunya mencuci baju di sungai.
Salah satu perahu karet yang ditumpangi tim kami.
Sedih? Sudah pasti. Bukan cuman saya saja yang sedih, seisi tim di atas perahu karet yang mengambang itu, tak satupun yang tertawa maupun mengucapkan canda. Kami menyuggingkan senyum ketika bocah-bocah badung itu berteriak kegirangan melihat kami di atas perahu karet. Sentilan yang cukup keras buat kami saat itu, melihat senyum-senyum di pipi tirus mereka. Betul ucapan atasan saya, apa yang sudah saya lakukan untuk bumi ini? Apa yang bisa saya/kami/kita/anda lakukan untuk menjaga senyum-senyum itu tetap terpatri di mulut-mulut kecil para penerus bangsa kita. Akankah kita biarkan ini terus berlanjut?

Tentu saja tidak!!! Pasti ada yang bisa kita lakukan. Sudah banyak artikel mengenai cara menjaga lingkungan dan menyelamatkannya. Saya tak akan menggurui anda di sini. Saya hanya ingin memanggil hati kecil anda agar tergerak dan mulai lebih 'aware' dengan kondisi bumi dan lingkungan kita.

Banyak website dan organisasi bergerak dibidang lingkungan yang dapat kalian kunjungi, untuk mendapatkan informasi mengenai cara melindungi dan menyelamatkan bumi. Salah satunya website yang cukup 'user friendly' dan mudah diakses yaitu; WWF Indonesia

Yuk dari sekarang jangan lagi kita sakiti bumi ini. Sungai kita, hutan kita, tanah kita, udara kita, Siapa yang jaga kalau bukan kita? Betul bukan? Jangan kalah sama mantan atasan saya yang masih berjuang menyelamatkan bumi di umurnya yang sudah tak lagi muda. Umur itu tidak masalah. Niat dan tindakan yang penting.

PS: Referensi photo diambil dari koleksi IKECC (lembaga yang dimaksud)